![]() |
| PPDS Online || Santri Salafiyah |
Anda Sedang Membaca Artikel Yang berjudul: Pesantren dan Etos Kehidupan Bag 2
Menuju keseimbangan
Institusi pesantren mengalami perkembangan dengan mengintergrasikan pola pendidikan madrasah kedalam pesantren. Selain itu ada pula pendidikan umum yang mengintegrasikan kedalam pesantren. Pendidikan Pesantren memiliki coraknya, ada yang bercorak salafiyah dan ada pula yang bercorak khalafiyah. Dan adapula yang bercorak plus. Corak-corak ini sesungguhnya menunjukkan adanya dinamika dalam dunia pesantren mengalami perubahan menuju pandangan hidup yang seimbang sebagaimana yang di isyaratkan da;am Alqur’an.
Hanya saja, seperti yang telah diungkap dalam merealisasikan pandangan kehidupan yang seimbang, sebagai etos kehidupan, terutama dalam pandangan hidup elit yang ada di pesantren perlu dicermati lebih jauh, apakah dalam pelaksanaanya terjadi distorsi. Misalnya dalam sisi kurikulum pendidikan pesantren yang bercorak salafiyah materi keilmuan sepenuhnya mengajarkan ilmu agama, sehingga wawasan santri terhadap ilmu-ilmu humaniora dan ilmu sosial sangat kurang. Santri hanya dipersiapkan untuk mengajar ilmu agama melalui kitab kuning, atau tugas lain dari santri adalah sebagai pembaca do’a. Santri sebenarnya setelah lulus mampu mengambil peran lebih luas lagi, yaitu menjadi pemimpin, penggerak, motivator dimasyarakat, semua itu memerlukan ilmu humaniora dan ilmu sosial serta pelatihan dalam management.
Anda Juga dapat membaca Artikel yang Berjudul : Peran Pesantren Sebagai Lembaga Ketahanan Moral
Dalam konteks pesantren bercorak Khalafiyah, untuk merealisasikan pandangan keseimbangan hiudp perlu pula dicermati. Para santri sepanjang hari mengerahkan potensi yang ada dalam dirinya untuk menguasai berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Dimaksudkan agar santri mengusai ilmu yang lengkap, tetapi justru karena keterbatasan kemampuan konsentrasi manusia juga terbatas, kemungkinan besar apa yang mereka terima sangat minimal. Maksud dari tujuan pendidikan tidak tercapai. Fakta yang ada penguasaan santri terhadap keilmuannya serba tanggung. Selain itu adapula fenomena yang memprihatinkan, misalnya, mengapa sedikit sekali atau mungkin belum ada santri yang mampu bersaing dalam uji kemampuan sains dan lainnya dalam tingkat nasional. Sering terdengar dari mereka yang beradu dalam uji kompetensi sains, matematika, fisika, kimia, ditingkat nasional dan internasional adalah yang berasal dari sekolah sekuler. Namun pada perkembangannya, Madrasah yang notabene sekolah berbasis Islam sudah mampu untuk bersaing ditingkat Nasional dan Internasional dalam berbagai bidang.
Citra pendidikan, adalah citra islam. Kebangkitan islam yang di cita-citakan kiai, ustadz, dan tokoh-tokoh islam lainnya, dituntut untuk kembali menginterpretasikan pandangan hidup islam yang seimbang dalam wujud nyata atau bukan hanya dalam bentuk slogan saja. Sudah banyak slogan umat islam seperti disebutkan diatas bahwa islam itu adalah agama yang tinggi dan tidak agama yang lebih tinggi darinya. Slogan lain sering pula diangkat bahwa Alqur’an kitab suci yang elngkap, melebihi lengkapnya dari kitab agama lain; bahwa ayat alqur’an telah mengisyaratkan tentang teknologi dan sains. Kedepan itulah realitas, bukan slogan yang harus direalisasikan oleh umat islam termasuk pesantren yang saat ini semakin eksis dan menjamur ditengah masyarakat. Semoga!

EmoticonEmoticon