Friday, August 31, 2018

Hikmah Jumlah Rekaat Shalat

Hikmah Jumlah Rekaat Shalat
PPDS Online 
Shalat merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim setelah memasuki usia balligh dan mukallaf. Wajib bagi setiap individu muslim untuk belajar ilmu tentang shalat. Karena shalat adalah ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah Swt.,Shala diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada saat Nabi SAW diangkat Oleh Allah SWT ke Mustawa’ yang kita kenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, yang hingga sekarang ini ummat islam selalu memperingatinya. Adapun jumlah rekaat dalam shalat fardhu yaitu berjumlah 17 rekaat. Dari 17 rekaat ini memiliki hikmah yang tersimpan, sebagaimana Diceritakan dalam kitab sulamul munajat : 18 - karya Syeikh Nawawi Al-bantani :

وحكمة عدد ركعات الصلوات الخمس الشكر علي النعم التي في الحواس الخمس وستر الخطايا منها .وذلك ان ركعات الصبح ثنتان لان اللمس يدرك النعومة والخشونة فالركعتان للشكر عليهما ولستر الخطايا منهما.وان ركعات الظهر اربع لان الشم يدرك المشموم من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه.وان ركعات العصر اربع لان السمع يدرك المسموع من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه.وان ركعات المغرب ثلاث لان المبصرات من ثلاث جهات أمام ويمين وشمال ولايدرك من وراء فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه.وان ركعات العشاء أربع لان الذوق يدرك أربعة اشياء البرودة والحرارة والمرارة والحلاوة فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه

Adapun hikmah jumlah roka'at shalat fardhu yang lima waktu ialah mensyukuri seluruh ni'mat yang berada pada panca indera (mata dengan penglihatannya, hidung dengan penciumannya, kuping dengan pendengarannya, verbal/lidah dengan perasanya dan kulit dengan perabanya).

- Jumlah roka'at shalat shubuh yakni dua, sebab rabaan bisa mengidentifikasi lembut dan kasar, Karenanya dua rokaat tadi menjadi pertanda syukur atasnya dan menghapus dosa atasnya.

- Jumlah roka'at shalat zduhur yakni empat, sebabpenciuman dapat menemukan aroma dan bebauan dari empat penjuru, karenanya empat roka'at ini menjadi pertanda  syukur atasnya dan menjadi penghapus dosa atasnya.

- Jumlah roka'at shalat ashar yakni empat, sebab pendengaran dapat menemukan/menangkap bunyi dari empat penjuru, karenanya empat roka'at ini menjadi pertanda syukur atasnya dan menjadi penghapus dosa atasnya.

- Jumlah roka'at shalat maghrib yakni tiga, sebab pandangan atau penglihatan cuma bisa menangkap objek dari tiga arah, yakni : dari arah depan, arah kanan dan arah kiri,dan tak dapat menangkap objek dari arah belakang. karenanya tiga roka'at ini menjadi pertanda syukur atasnya dan menjadi penghapus dosa atasnya.

- Dan jumlah roka'at shalat isya yakni empat, karena mencicipi/merasa dapat mengidentifikasi empat perkara : dingin, panas, pahit dan manis, karenanya empat roka'at ini menjadi pertanda syukur atasnya dan menjadi penghapus dosa atasnya. Wallahu a'lam

Monday, August 27, 2018

Remaja Dalam Sorotan Bag 2

Reamaja Dalam SOrotan Bag 2
PPDS Online || Remaja
Anda Sedang Membaca Artikel Yang berjudul: Remaja dalam Sorotan Bag 2

2. Remaja yang Tersesat Arus
Gemuruh informasi yang melanda generasi muda kita seakan-akan ingin menelanjangi kepribadian  generasi penerus hingga tiada tersisa sehelai benangpun. Sehingga, apa yang menjadi batasan baikburuk telah terselubung awan pekat dalam generasi mendatang ingkat, apalgi riasalah-risalah yang dibawa Rasul akhir zaman. Kemungkinan tersebut terealisasi dengan semaraknya kelompok-kelompok mereka melakukan kegiatan keresahan.

3. Perkelahian Remaja
Kerap kita menjumpai berbagai macam aksi kekerasan dan tindak kriminal yang dilakukan oleh generasi muda kita, baiki itu ringan atau yang paliing berat. Berita-berita kenakalan remaja kita dalam media massa pun sering menjadi dorotan yang serasa tiada kunjung habis.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh bagong suyanto dalam sebuah artikelnya. Antara lain :”Belakangan ini, kasus perkelahian pelajar jakarta marak lagi (tahun 1995) bahkan para pelajar nekat membajak bus dan memaksa sopirnya untuk menghantar mereka menyerbu sebuah sekolah disuatu tempat. Sebelumnya, perkelahian remaja pun banyak terjadi di berbagai tempat, diluar maupun didalam ibu kota.

Sebagai masalah sosial, perkelahian pelajar sudah sangat mersahkan masyarakat. Masyarakat dan para sopir bus mengaku takut bila melihat gerombolan pelajar. Mereka biasanya enggan membayar, suka memeras dan bikin onar dan bahkan tak jarang main kasar. Siapa yang tak miris, pelajar yang seharusnya aktif belajar disekolah, ternyata ditas mereka tersimpan celurit, golok, rantai bermata tajam, pisau, dan sebagainya, layaknya seorang preman.

Anda Juga dapat membaca Artikel yang Berjudul :Peran Pesantren Sebagai Lembaga Ketahanan Moral

Didaerah kota besar, perkelahian pelajar seperti halnya penyakit yang sudah kronis. Memang tidak semua pelajar berkelakuan buruk. Tetapi, karena ulah oknum pelajar itu cenderung intensif dan menakutkan maka kesan yang muncul adalah pelajar yang rusak.

4. Prilaku Asusila
Selain maraknya kebrutalan remaja, tak kalah pula prilaku yang mengarah pada tindakan-tindaka asusila yang dilakukan oleh kelompok-kelompok remaja yang masih membutuhkan bimbingan dan perhatian orang tua.

Sebagaimana kita banyak menyaksikan bahwa remaja yang masih dalam tahap pubertas tersebut banyak yang telah berkubang dengan lumpur ketidaketisan dan bahkan pada tindak kemaksiatan. Bagaimana kita saksikan mereka dalam berpakaian dan bertingkah laku. Berketat-ketat ria dalam berpakaian, ingin menonjolkan lekuk tubuhnya yang memang masih mekar-mekarnya serta terjerumus dalam pergaulan bebas yang melenakannya.

Bagaiamana potret remaja kita dalam bergaul dan bersosialisasi dalam lingkungannya telah mengkhawatirkan. Tempat-tempat seperti diskotik, pub, dan bar merupakan wadah dan ajang berkencan mereka. Berawal dari situ mereka berhura-hura sampai dinihari. Sehingga berbagai hal negatif akan cepat mereka dapatkan. Dari sekedar bersenang-senang, meningkat pada mabuk-mabukkan, menggunakan obat-obatan terlarang, hingga terjerumus pada perbuatan mesum. Akibatnya adalah banyaknya terjadi hamil di usia dini dan hamil diluar hubungan pernikahan, banyak terjadi keresahan, kerugian, dan kehancuran bagi diri mereka.

Sidat remaja yang bergerombol disuatu tempat dengan suguhan minuman yang memabukkan kerap terjadi dikalangan remaja sebagai kompensasi pelarian atau agar mereka dicap dan dikatakan oleh teman-temannya yang lain sebagai teman yang setia dan toleransi. Ya, toleransi yang salah.

Dampak yang membuat kita miris dari prilaku bebas tersebut, akhir-akhir ini sering kita jumpai. Tuhan memberikan peringatan dengan sangat jelas, yaitu diturunkannya berbagai penyakit yang diakibatkan oleh pergaulan bebas, mulai dari GO, AIDS dan lain-lain. Peringatan yang mengandung makna dalam, jika kita mau mengkaji dan merenungkan, bahwa manusia yang telah menyimpang jauh tersebut harus kembali pada aturan-aturanNya; serta sebagai rambu-rambu bagi manusia umumnya untuk dijadikan pelajaran.

Sunday, August 26, 2018

Remaja dalam sorotan

Remaja dalam Sorotan
PPDS Online || Remaja
Anda Sedang Membaca Artikel Yang berjudul: Remaja dalam Sorotan

Dalam ajaran Islam, seorang anak merupakan kekayaan yang paling berharga diatas segala kekayaan yang dimiliki oleh suatu keluarga, sebab anak memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada nilai serta keberadaan harta benda yang dimiliki. Dan anak merupakan wasiat Tuhan yang harus dijaga dan dididik dengan benar dan sungguh-sungguh. 

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “didiklah anak-anakmu dalam tiga perkara; Mencintai Nabi mu, Mencintai Ahli Baitnya (Keluarga), dan Mencintai Al-qur’an.”

Cara mendidik serta membimbing anak kita hendaknya dimulai sejak dini. Dibiasakan kepada mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan shalih dan dididik mereka untuk mencintai ibadah kepadaNya dengan Iklash. Dalam pendidikan formal anak dipasrahkan pada sekolah atau madrasah yang benar-benar memiliki penguatan dalam pendidikan Islam. Kesemua itu tujuannya adalah supaya anak terbekali iman yang kokoh dalam mengikis arus globalisasi yang tiada mengenal batas dan dampak kemajuan iptek yang dapat melindas keimanan seseorang.

Dalam hal mengajarkan al-qur’an kepada anak sebagaimana hadist diatas, tentunya bukan hanya membaca secara harfiyah, tetapi juga anak dibimbing untuk memahami dan mengetahui isi kandungan ayat-ayat alqur’an, serta dapat memperdalam ilmu-ilmu lainnya seperti iptek. Sehingga anak bisa menjadi generasi qur’ani yang bermanfaat.

Seorang anak bisa memmbuat orang tuanya bangga dan bahagia manakala anak tersebut, menurut, berbakti dan berhasil menjadi anak yang berguna. Namun sebaliknya, seorang anak bisa membuat orang tua menderita dan melaknatnya, apabila seorang anak tersebut tidak dapat membawa diri dalam pergaulan. Rasulullah SAW bersabda: “Anak itu bisa mendatangkan duka, lemah hati, bodoh, dan bahil”

Untuk itu, alqur’an disebutkan agar kita selalu memohon kepadaNya agar dikaruniai keturunan yang baik lagi beragama.

1. Masa Transisi
Perubahan-perubahan yang amat sensitif dalam diri seseorang adalah perubahan antara masa anak-anak dan masa remaja (masa pubertas). Dalam masa ini pengawasan orang tua haruslah kontinyu dan penuh kebijaksanaanserta penuh kasih sayang. Sebab, pada masa-masa transisi ini perkembangannya pribadi dan bathiniyah anak mulai menampakkan kepesatannya dan kesensitifannya, dimana ia akan mengalami perubahan-perubahan yang drastis, baik itu cara bergaul, bergaya, berpakaian, berfikir, dan berfikir. Mulai dari sinilah pembentukan karakter dan kepribadian yang ditanamkan orang tua semenjak dini menampakkan wujudnya. Yang kadang kala anak bersifat brontak terhadap kondisi yang ada. Apabila seorang anak telah memasuki usia balligh maka ia telah menapaki kewajian-kewajiban syre’at seperti yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam.

Pada masa remaja (pubertas), seseorang akan berada pada kondisi yang dengan vitalitas hidup, yaitu dalam menjalankan kehidupan ini pebuh dengan gairah yang membara. Dalam masa ini idealnya remaja harus banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang baik dan bermanfaat. Sebab, masa-masa transisi ini adalah masa-masa yang rawan. Jika tidak dilatih membiasakan diri ke hal-hal yang baik, maka akan di khawatirkan remaja tersebut akan terseret arus globalisasi yang dapat menjauhkan dari keimanan dan ketaqwaan.

Anda Juga dapat membaca Artikel yang Berjudul : Peran Pesantren Sebagai Lembaga Ketahanan Moral

Kekhawatiran tersebut tidaklah berlebihan, sebab pada masa kini remaja akan lebih cenderung pada pemuasan nafsu duniawi yang dapat mewujudkan kesenangannya daripada menjalankan perintah-perintahNya. Hal itu merupakan cerminan jiwanya yang penuh dengan semangat dan gairah hidup yang penuh vitalitas yang menggebu-gebu, yang terkadang berontak. Fenomena tersebut akan terjadi manakala remaja tidak terlatih untuk beramal shalih semenjak dini dalam keluarga dan lingkungan hidup.

Pesantren dan Etos Kehidupan Bag 2

Pesantren dan Etos Kehidupan Bag 2
PPDS Online || Santri Salafiyah
Anda Sedang Membaca Artikel Yang berjudul: Pesantren dan Etos Kehidupan Bag 2

Menuju keseimbangan

Institusi pesantren mengalami perkembangan dengan mengintergrasikan pola pendidikan madrasah kedalam pesantren. Selain itu ada pula pendidikan umum yang mengintegrasikan kedalam pesantren. Pendidikan Pesantren memiliki coraknya, ada yang bercorak salafiyah dan ada pula yang bercorak khalafiyah. Dan adapula yang bercorak plus. Corak-corak ini sesungguhnya menunjukkan adanya dinamika dalam dunia pesantren mengalami perubahan menuju pandangan hidup yang seimbang sebagaimana yang di isyaratkan da;am Alqur’an.

Hanya saja, seperti yang telah diungkap dalam merealisasikan pandangan kehidupan yang seimbang, sebagai etos kehidupan, terutama dalam pandangan hidup elit yang ada di pesantren perlu dicermati lebih jauh, apakah dalam pelaksanaanya terjadi distorsi. Misalnya dalam sisi kurikulum pendidikan pesantren yang bercorak salafiyah materi keilmuan sepenuhnya mengajarkan ilmu agama, sehingga wawasan santri terhadap ilmu-ilmu  humaniora dan ilmu sosial sangat kurang. Santri hanya dipersiapkan untuk mengajar ilmu agama melalui kitab kuning, atau tugas lain dari santri adalah sebagai pembaca do’a. Santri sebenarnya setelah lulus mampu mengambil peran lebih luas lagi, yaitu menjadi pemimpin, penggerak, motivator dimasyarakat, semua itu memerlukan ilmu humaniora dan ilmu sosial serta pelatihan dalam management.

Anda Juga dapat membaca Artikel yang Berjudul : Peran Pesantren Sebagai Lembaga Ketahanan Moral

Dalam konteks pesantren bercorak Khalafiyah, untuk merealisasikan pandangan keseimbangan hiudp perlu pula dicermati. Para santri sepanjang hari mengerahkan potensi yang ada dalam dirinya untuk menguasai berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Dimaksudkan agar santri mengusai ilmu yang lengkap, tetapi justru karena keterbatasan kemampuan konsentrasi manusia juga terbatas, kemungkinan besar apa yang mereka terima sangat minimal. Maksud dari tujuan pendidikan tidak tercapai. Fakta yang ada penguasaan santri terhadap keilmuannya serba tanggung. Selain itu adapula fenomena yang memprihatinkan, misalnya, mengapa sedikit sekali atau mungkin belum ada santri yang mampu bersaing dalam uji kemampuan sains dan lainnya dalam tingkat nasional. Sering terdengar dari mereka yang beradu dalam uji kompetensi sains, matematika, fisika, kimia, ditingkat nasional dan internasional adalah yang berasal dari sekolah sekuler. Namun pada perkembangannya, Madrasah yang notabene sekolah berbasis Islam sudah mampu untuk bersaing ditingkat Nasional dan Internasional dalam berbagai bidang.

Citra pendidikan, adalah citra islam. Kebangkitan islam yang di cita-citakan kiai, ustadz, dan tokoh-tokoh islam lainnya, dituntut untuk kembali menginterpretasikan pandangan hidup islam yang seimbang dalam wujud nyata atau bukan hanya dalam bentuk slogan saja. Sudah banyak slogan umat islam seperti disebutkan diatas bahwa islam itu adalah agama yang tinggi dan tidak agama yang lebih tinggi darinya. Slogan lain sering pula diangkat bahwa Alqur’an kitab suci yang elngkap, melebihi lengkapnya dari kitab agama lain; bahwa ayat alqur’an telah mengisyaratkan tentang teknologi dan sains. Kedepan itulah realitas, bukan slogan yang harus direalisasikan oleh umat islam termasuk pesantren yang saat ini semakin eksis dan menjamur ditengah masyarakat. Semoga! 

Friday, August 24, 2018

Pesantren dan Etos Kehidupan Bag 1

Pesantren dan Etos Kehidupan Bag 1
PPDS Online || Santri Salafiyah

Anda Sedang Membaca Artikel Yang berjudul: Pesantren dan Etos Kehidupan Bag 1

Pandangan hidup atau falsafah hidup memberikan warna yang sangat dominan dalam membentuk kehidupan setiap manusia dan suatu bangsa. Dalam islam pandangan hidup yang sering dianggap baca dan diungkap untuk menggunggah kebangkitan umat islam, yaitu pandangan hidup yang seimbang antara kehidupan didunia maupun diakhirat. Berbeda dengan pandangan hidup orang-orang marxis yang anti tuhan berpandangan bahwa yang penting kehidupan didunia ini. Berbeda pula dengan pandangan hidup orang-orang barat yang umumnya meyakini agama, tetapi kehidupan dunia atau materi lebih didahulukan. Pandangan hidup islam yang seimbang itu dapat menjadi etos kehidupan setiap muslim.


Pandangan hidup umat islam sangat ideal sebagai jalan tengah, namun ia mudah untuk dibaca tetapi sangat sulit diaplikasikan. Karena dalam kehidupan yang nyata ukuran-ukuran hidup yang seimbang secara matematis sangat sulit diukur. Karena sulit untuk diukur, apa yang disampaikan oleh kiai atau da’i islam, sering dipahami bahwa kehidupan ini hanya perhiasan atau permainan belaka. Karena itu perbanyaklah melakukan ibadah, baik ibadah wajib ataupun sunnah.

Anda Juga dapat membaca Artikel yang Berjudul : Peran Pesantren Sebagai Lembaga Ketahanan Moral

Dalam kesulitan mengukur pandangan hidup idela itu ada pula yang memahami bahwa bentuk ibadah dalam islam itu bukan hanya bentuk ibadah wajib, tetapi ada pula bentuk ibadah yang tidak wajib. Hampir semua umat islam memahami seperti itu, tetapi masih tidak mudah untuk diejawantahkan. Sehingga dalam aplikasinya justru sering tidak seimbang atau dengan kata lain lebih berat kesudut akhirat. Dalam konteks ini yang dapat ditawarkan adalah bahwa setiap muslim telah dapat melaksanakan ibadah wajib, dalam frekuensi yang sesuai dengan kaidah dan tata aturan yang sesuai dengan AL-qur’an dan Hadist. Tetapi tidak berlebih-lebihan dalam melaksanakan ibdahnya tersebut, semisal setiap tahun haji, hal ini dikhawatirkan lebih didasari demi kepentingan pribadi seseorang untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya dihadapan Allah, bukan untuk mencari RidhaNya. Padahal dalam ajaran islam, kemaslahatan masyarakat sangat ditekankan, seperti disimbolkan perlunya sholat berjamaah, bukan saja dalam pelaksanaan sholat wajib tetapi juga sholat sunnah.

Pesantren, sebuah karya genius yang mewarisi misi kenabian dan sekaligus sebagai institusi yang ingin membuktikan bahwa agama islam itu adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Selain itu, ia membuktikan pula bahwa agama islam menganjurkan kepada ummatnya bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah. Juga ia ingin membuktikan bahwa umat islam adalah umat yang terbaik yang menyandang tugas memanggil kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan. Banyak lagi cita-cita lain yang utama dari dunia pesantren.

Untuk merealisasikan hal tersebut, dunia pesantren telah melakukan kiprahnya baik pada pra kemerdekaan maupun pada pasca kemerdekaan. Dunia pesantren telah membuktikan bahwa dirinya sebagai basis perlawanan terhadap belanda maupun jepang. Dunia pesantren sangat ditakuti oleh penjajah, karena memproduksi para pahlawan perlawanan seperti Tengku Umar, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain. Dimasa pra kemerdekaan tokoh-tokoh pesantren telah telibat dalam merumuskan dasar negara, seperti KH. Bagus Hadikusumo, KH. Ahmad Dahlan,  KH. Wahid Hasyim dan lain-lain. Dimasa mengisi kemerdekaan lulusan pendidikan pesantren telah menjadi politisi, bekerja di birokrasi dan berkiprah dimasyarakat.

Pesantren, secara kuantitatif telah mengalami perkembangan yang siginifikan, hampir setiap propinsi memiliki pesantren. Jumlah pesantren kini telah mencapai jumlah yang cukup besar yaitu lebih dari puluhan ribu pesantren dengan berbagai bentuk dan sistemnya. Serta lebih dari empat juta santri yang tersebar diseluruh pesantren tanah air. Dengan jumlah pesantren dan santri yang cukup banyak ini, pendidikan pesantren dapat menggetarkan dunia dan meraih kembali kejayaan silam yang dapat mewarnai dunia dalam aspek kehidupan.

Hanya saja dalam perkembangan dan perjalanannya pesantren berjalan masih sangat alami, dan terkesan sangat gradual. Ini juga sebenarnya fenomena pendidikan islam diberbagai belahan dunia lainnya. Perkembangannya tidak melalui kajian atau perencanaan kedepan. Padahal perubahan dan rancangan kedepan sangat dipahami oleh dunia pesantren melalui ayat-ayat al-qur’an. Namun selanjutnya, pada awal-awal kemerdekaan, ada pula kalangan pendidikan islam yang mengadopsi sistem pendidikan kolonial, yang umunya mereka sebut pendidikan madrasah. Tampaknya model pendidikan madrasah dan pesantren sebagai model pendidikan sendiri-sendiri. Pada perkembangannya madrasah-madrasah yang didirikan oleh masyarakat banyak menjadi sekolah pemerintah, sementara pesantren tetap dikelola masyarakat sendiri. Adapula madrasah yang didirikan ditengah-tengah pesantren. Pendidikan ditanah air kemudian mengalami differensiasi ada pendidikan sekolah umum, ada pendidikan madrasah, dan ada pula pendidikan pesantrean.

Wednesday, August 22, 2018

Peran Pesantren Sebagai Ketahanan Moral

Peran Pesantren Sebagai Ketahanan Moral
PPDS || Santri Salafiyah
Anda Sedang Membaca Artikel yang berjudul : Peran Pesantren Sebagai Ketahanan Moral

Pesantren Sebagai Basis Moral Masyarakat

Pada umumnya ketika orang tua ditanya tentang alasan mereka mempercayakan anaknya kesebuah lembaga pendidikan pesantren, maka sebagian besar dari mereka akan mengatakan agar anaknya menjadi anak yang baik. Alasan yang sangat sederhana. Namun itulah alasan dan harapan awal yang mereka kemukakan, di samping kemudian agar anaknya menjadi orang memahami ilmu agama dan sebagainya.

Motivasi memperolah pendidikan akhlaq yang baik (apalagi pada orang tua yang anaknya mempunyai masalah etika dan moral di lingkungannya sehari-hari) menjadi sebuah kesadaran sekaligus harapan disaat lingkungan keluarga dan sekolah dirasa tidak mampu memberikan yang terbaik dari apa yang diharapkan oleh orang tua itu.

Masyarakat sampai kini masih meyakini bahwa pendidikan pesantren akan mampu meletakkan dasar-dasar pembinaan prilaku yang baik serta meluruskan dan memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dari anak-anaknya. Sehingga bila telah kembali ke keluarga dan masyarakat akan menjadi pribadi yang mantap yang mampu mengendalikan kepribadian dan moral hingga selnjutnya mampu membimbing keluarga dan masyarakatnya.

Dizaman modern seperti ini, disaat dunia tak berjarak dan mengglobal. Transformasi budaya dan arus informasi yang sulit dibendung telah memberikan andil besar dalam proses terjadinya dekadensi moral, khususnya dikalangan anak-anak dan remaja. Budaya kekerasan dan pornografi misalnya, telah masuk kedalam ruang keluarga kita melalui media-media cetak, media elektronik. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog Universitas Standford, Albert Bandun menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang suka menyaksikan adegan kekerasan ditelevisi ternyata setelahnya berprilaku lebih agresif dua kali lipat dibandingkan dengan anak yang tidak menyaksikan adegan tersebut. Jadi, jangan heran jika kita sering menyaksikan perkelahian antar remaja, karena memang itulah efek dari tayangan yang beradegan kekerasan.

Anda Juga Bisa membaca Artikel yang berjudul : Tradisi Pendidikan Pesantren

Proses Pembentukkan Jatidiri di Pesantren

Dari sudut pandang seorang pendidik maupun psikolog, menyebutkan bahwa pembinaan akhlaq adalah pendidikan yang jauh lebih sulit dibandingkan dari pendidikan bidang study lain. Sebab pendidikan akhlaq menyangkut sikap, tata nilai dan penghargaan yang harus termanifestasi dalam budi pekerti, tingkah laku yang baik.

Disisi lain, faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi, karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang sangat dipengaruhi oleh kehidupan orang disekelilingnya.

Untuk memperolah pembinaan akhlaq yang memadai harus didukung oleh suasana hubungan antar manusia yang diwarnai oleh nuansa keagamaan yang kondusif, dalam hal ini maka pondok pesantren mempunyai posisi dan peran yang sangat strategis untuk mewujudkan hal itu.

Dipesantren diajarkan banyak hal antara lain, 1) pengetahuan tentang pokok-pokok ajaran islam, sumber-sumbernya, tentang hukum-hukum dan tujuan pensyariatannya. 2) prilaku sosial, tentang bagaimana melatih diri untuk senantiasa bertingkah laku terhadap orang lain, seperti guru, teman dan masyarakat sekitar. 3) nilai-nilai. Tentang kedisiplinan, kebersamaan, tanggungjawab, kemandirian, kreatifitas dan semacamnya.

Dalam kesehariannya juga dilatih dan dituntut untuk bangun tepat waktu untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah,membaca dan menghafal, belajar dikelas, mendengarkan dan berlatih ceramah, olahraga dan berorganisasi, dan semua rutnitas yang bisa dirasakan manfaatnya dalam membentuk pribadi yang rajin, disiplin, sejuk hati, terampil, tajam fikiran dan berwawasan, serta memiliki pengalaman dan ketrampilan. Penuh percaya diri dan keberanian dalam kebenaran. Ini semua tentunya akan sangat bermanfaat manakala sudah kembali ke keluarga dan masyarakat.

Tradisi Pendidikan Pesantren

Tradisi Pendidikan Pesantren
PPDS || Santri
Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang tumbuh dan berkembang serta mengakar ditengah masyarakat. Dalam operasionalnya pesantren memiliki nilai-nilai pokok yang tidak dimiliki oleh lembaga lain. Pertama; cara pandang secara keseluruhan adalah sebagai ibadah, lillahi ta’ala. Kedua; menuntut ilmu adalah kewajiban dan tiada batas akhir (longlife education). Ilmu dan ibadah tak bermakna jika tidak diamalkan dan tidak diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Ketiga; keikhlasan bekerja untuk tujuan-tujuan bersama. Dengan modal itu keberadaan dimasyarakat sangat kuat karena mendapat dukungan secara luas. Hal itu terjalin sangat intens sehingga terjadi interaksi sosial yang sangat tinggi.

Tradisi pendidikan pesantren berisi nilai-nilai agama yang diekspresikan bukan hanya dengan simbol-simbol agama, namun juga dipraktekkan langsung oleh warga pesantren yang ada dilingkungannya. Kiai sebagai figur sentral dan asatidz sebagai uswah hasanah kepada santrinya bukan hanya dikelas namun di sosialisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya tercipta hubungan yang sangat harmonis. Mileu seperti ini secara tidak langsung menjadi modal utama untuk menunjang dalam pembentukkan sikap pribadi santri.

Menurut Dr. Hi. Husni Rahim, bahwa pendidikan pesantren tidak hanya transfer ilmu dari kiai ke santri, melainkan juga aspek pembentukan karakter. Transfer ilmu tidak dibatasi oleh target waktu penyelsaian kurikulum sebagaimana terinci dalam gari garis program pengajaran pada kurikulum sekolah atau madrasah, melainkan pada penekanan pada pengusaan detil-detile konsep secara tuntas tanpa dibatasi oleh waktu tertentu.

Dalam pendidikan pesantren santri didik untuk aktik dan proaktif, terhadap segala hal yang dihadapinya. Dengan metode sorogan misalnya, dimana santri menyodorkan kitab kepada kiai dengan membaca dan memahami bab, yang kemudian dikoreksi oleh kiai yang langsung ditujukan kepada santri tersebut. Dari sini akan terjadi interaksi secara aktif sehingga menimbulkan diskusi antara kiai dan santri. Metode ini menuntut santri bersikap kritis dan bernalar tinggi dalam pemahaman teks serta kesabaran, keuletan dan kerja keras.

Biasanya, untuk menambah pemahan dan bobot keilmuan, santri mengadakan pengembaraan ke pesantren-pesantren lainnya. Cara seperti ini adalah cairi utama dalam kehidupan pengetahuan dipesantren dan mengimbangkan adanya kesatuan sistem pendidikan pesantren serta merupakan stimulasi bagi kegiatan dan kemajuan ilmu. Oleh karena itu, biasanya kiai memberikan ijazah/izin kepada asatidz untuk mengajarkan ilmu yang telah dipelajari kepada santri yang lain. Dan yang tak kalah penting adalah kiai menyampaikan silsilah ilmu yang dipelajari dari siapa kiai tersebut belajar hingga sampai kepada Muallif kitabnya.

Dari uraian diatas dapat kita garisbawahi bahwa pendidikan pesantren sebenarnya adalah “Menjadi Pembelajar”. Artinya, santri dididik bagaimana untuk belajar didalam “dunia pesantren”. Karena segala apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan adalah sebagai pendidikan. Hal ini relevan dengan visi pendidikan versi UNESCO yaitu, belajar berfikir, belajar berbuat/hidup, belajar hidup bersama dan belajar menjadi diri sendiri.

Tak heran jika pada tahun 30 an, Dr. Sutomo pernah mengusulkan agar asas-asas pendidikan pesantren dipergunakan sebagai dasar pembangunan pendidikan nasional. Meski tidak mendapat repon pada waktu itu, namun yang perlu diingat adalah pesantren merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembentukan identitas budaya bangsa Indonesia.